KEGAWATAN PADA SISTEM KARDIOVASKULAR
Gagal jantung (Heart Failure) umumnya
didefinisikan sebagai ketidakmampuan jantung untuk memasok aliran darah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ini memiliki berbagai kriteria
diagnostik, dan istilah gagal jantung sering salah digunakan untuk menjelaskan
penyakit jantung-terkait lainnya, seperti infark miokard (serangan
jantung) atau serangan jantung.
Penyebab gagal jantung (Heart Failure) termasuk infark
miokard (serangan jantung) dan bentuk lain dari penyakit jantung iskemik,
hipertensi, penyakit jantung katup, dan cardiomyopathy. Gagal jantung dapat
menyebabkan sejumlah gejala termasuk sesak nafas (biasanya lebih buruk ketika
berbaring datar, yang disebut ortopnea), batuk, kongesti vena kronis,
pergelangan kaki bengkak, dan intoleransi latihan. Gagal jantung sering tidak
terdiagnosa karena kurangnya definisi universal yang disepakati dan tantangan
dalam diagnosis definitif. Pengobatan umumnya terdiri dari langkah-langkah gaya
hidup (seperti berhenti merokok, cahaya latihan termasuk protokol pernapasan,
penurunan asupan garam dan perubahan pola makan lainnya) dan obat-obatan, dan
kadang-kadang peralatan atau bahkan operasi.
Gagal jantung adalah kondisi umum,
mahal, menonaktifkan, dan berpotensi mematikan. Di negara maju, sekitar 2%
orang dewasa menderita gagal jantung, tetapi pada mereka yang berusia 65 tahun,
ini meningkat sampai 6-10%. Sebagian besar karena biaya rumah sakit itu
dikaitkan dengan pengeluaran kesehatan tinggi, biaya yang telah diperkirakan
sebesar 2% dari total anggaran National Health Service di Inggris, dan lebih
dari $ 35 miliar di Amerika Serikat. Gagal jantung berhubungan dengan kesehatan
fisik dan mental secara signifikan berkurang, sehingga kualitas hidup menurun
tajam. Dengan pengecualian gagal jantung disebabkan oleh kondisi reversibel,
kondisi biasanya memburuk dengan waktu. Meskipun beberapa orang yang bertahan
hidup bertahun-tahun, penyakit progresif dikaitkan dengan tingkat kematian
secara keseluruhan tahunan sebesar 10%. Penyakit jantung pada lansia
mempunyai penyebab yang multifaktorial yang saling tumpang tindih. Untuk
itu kita harus terlebih dahulu memahami mengenai konsep Faktor Resiko dan
Penyakit Degeneratif. Faktor resiko adalah suatu kebiasaan, kelainan dan
faktor lain yang bila ditemukan/dimiliki seseorang akan menyebabkan orang
tersebut secara bermakna lebih berpeluang menderita penyakit degeneratif
tertentu.
Penyakit degeneratif adalah suatu penyakit yang mempunyai
penyebab dan selalu berhubungan dengan satu faktor resiko atau lebih, dimana
faktor-faktor resiko tersebut
bekerja sama menimbulkan penyakit degeneratif
itu. Penyakit degeneratif itu sendiri dapat menjadi faktor resiko untuk
penyakit degeneratif lain. Misalnya: penyakit jantung dan hipertensi
merupakan faktor resiko stroke.
Epidemiologi
Gagal jantung adalah merupakan suatu sindrom, bukan diagnosa
penyakit. Sindrom gagal jantung kongestif (Chronic Heart Failure/ CHF)
juga mempunyai prevalensi yang cukup tinggi pada lansia dengan prognosis yang
buruk. Prevalensi CHF adalah tergantung umur/age-dependent. Menurut
penelitian, gagal jantung jarang pada usia di bawah 45 tahun, tapi menanjak
tajam pada usia 75 – 84 tahun. Dengan semakin meningkatnya angka harapan hidup,
akan didapati prevalensi dari CHF yang meningkat juga. Hal ini
dikarenakan semakin banyaknya lansia yang mempunyai hipertensi akan mungkin
akan berakhir dengan CHF. Selain itu semakin membaiknya angka keselamatan
(survival) post-infark pada usia pertengahan, menyebabkan meningkatnya jumlah
lansia dengan resiko mengalami CHF.
Siklus Jantung
Siklus Jantung meliputi tiga fase, yaitu fase istirahat
(diastole) dan fase kontraksi ( systole dan ventricular).
Diastole
Fase relaksasi otot, ditandai dengan terjadinya dilatasi. Darah
vena memasuk atrium, lalu, setelah katup atriovencularis terbuka, langsung
mengalir ke ventriculus dan mengisi 70 persen kapasitasnya.
Systole Ventricular
Systole ventricular adalah kontraksi dari ventriculus. Katup
antrioventrikularis menutup untuk mencegah darah mengalir balik ke atrium.
Sedang katup seminularis terbuka agar darah dapat mengalir ke truncus
pulmonalis dan aorta.
Gagal Jantung
Gagal jantung adalah berhentinya sirkulasi
normal darah disebabkan kegagalan dari ventrikel jantung untuk berkontraksi
secara efektif pada saat systole. Akibat kekurangan penyediaan darah,
menyebabkan kematian sel karena kekurangan oksigen. Akibat selanjutnya adalah
berkurangnya pasokan oksigen ke otak yang dapat menyebabkan korban kehilangan
kesadaran dan berhenti bernapas dengan tiba-tiba.
Gagal jantung adalah gawat medis yang bila dibiarkan tak
terawatt akan menyebabkan kematian dalam beberapa menit.
Etiologi dan Patofisiologi
CHF terjadi ketika jantung tidak lagi kuat
untuk memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Fungsi
sitolik jantung ditentukan oleh empat determinan utama, yaitu: kontraktilitas
miokardium, preload ventrikel (volume akhir diastolik dan resultan
panjang serabut ventrikel sebelum berkontraksi), afterload kearah ventrikel,
dan frekuensi denyut jantung.
Terdapat 4 perubahan yang berpengaruh langsung pada kapasitas
curah jantung dalam menghadapi beban :
1.
Menurunnya respons terhadap stimulasi beta adrenergik akibat
bertambahnya usia. Etiologi belum diketahui pasti. Akibatnya adalah
denyut jantung menurun dan kontraktilitas terbatas saat menghadapi beban.
2.
Dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku pada usia lanjut
karena bertambahnya jaringan ikat kolagen pada tunika media dan adventisia
arteri sedang dan besar. Akibatnya tahanan pembuluh darah (impedance)
meningkat, yaitu afterload meningkat karena itu sering
terjadi hipertensi sistolik terisolasi.
3.
Selain itu terjadi kekakuan pada jantung sehingga compliance
jantung berkurang. Beberapa faktor penyebabnya: jaringan ikat interstitial meningkat, hipertrofi
miosit kompensatoris karena banyak sel yang apoptosis (mati) dan
relaksasi miosit terlambat karena gangguan pembebasan ion non-kalsium.
4.
Metabolisme energi di mitokondria berubah pada usia lanjut.
Keempat faktor ini pada usia lanjut akan mengubah struktur,
fungsi, fisiologi bersama-sama menurunkan cadangan kardiovaskular dan
meningkatkan terjadinya gagal jantung pada usia lanjut.
Penyebab yang sering adalah menurunnya kontraktilitas miokard
akibat Penyakit Jantung Koroner, Kardiomiopati, beban kerja jantung yang
meningkat seperti pada penyakit stenosis aorta atau hipertensi, kelainan katup
seperti regurfitasi mitral.
Mekanisme Kompensasi
Tubuh memiliki beberapa mekanisme kompensasi untuk mengatasi
gagal jantung.
1. Mekanisme respon darurat yang pertama
berlaku untuk jangka pendek (beberapa menit sampai beberapa jam), yaitu reaksi
fight-or-flight. Reaksi ini terjadi sebagai akibat dari pelepasan adrenalin
(epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) dari kelenjar adrenal ke dalam
aliran darah; noradrenalin juga dilepaskan dari saraf.
Adrenalin dan noradrenalin adalah sistem pertahanan tubuh yang
pertama muncul setiap kali terjadi stres mendadak. Pada gagal jantung,
adrenalin dan noradrenalin menyebabkan jantung bekerja lebih keras, untuk
membantu meningkatkan curah jantung dan mengatasi gangguan pompa jantung sampai
derajat tertentu.
Curah jantung bisa kembali normal, tetapi biasanya disertai
dengan meningkatnya denyut jantung dan bertambah kuatnya denyut jantung.
Pada seseorang yang tidak mempunyai kelainan jantung dan
memerlukan peningkatan fungsi jantung jangka pendek, respon seperti ini sangat
menguntungkan. Tetapi pada penderita gagal jantung kronis, respon ini bisa
menyebabkan peningkatan kebutuhan jangka panjang terhadap sistem kardiovaskuler
yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Lama-lama peningkatan kebutuhan ini
bisa menyebabkan menurunya fungsi jantung.
2. Mekanisme perbaikan lainnya adalah penahanan garam (natrium)
oleh ginjal.
Untuk mempertahankan konsentrasi natrium yang tetap, tubuh
secara bersamaan menahan air.
Penambahan air ini menyebabkan bertambahnya volume darah dalam
sirkulasi dan pada awalnya memperbaiki kerja jantung. Salah satu akibat dari
penimbunan cairan ini adalah peregangan otot jantung karena bertambahnya volume
darah.
Otot yang teregang berkontraksi lebih kuat. Hal ini merupakan
mekanisme jantung yang utama untuk meningkatkan kinerjanya dalam gagal jantung.
·
Tetapi sejalan dengan memburuknya gagal jantung, kelebihan
cairan akan dilepaskan dari sirkulasi dan berkumpul di berbagai bagian tubuh,
menyebabkan pembengkakan (edema).
·
Lokasi penimbunan cairan ini tergantung kepada banyaknya cairan
di dalam tubuh dan pengaruh gaya gravitasi. Jika penderita berdiri, cairan akan
terkumpul di tungkai dan kaki
·
Jika penderita berbaring, cairan akan terkumpul di punggung atau
perut.
·
Sering terjadi penambahan berat badan sebagai akibat dari
penimbunan air dan garam.
3. Mekanime utama lainnya adalah pembesaran otot jantung
(hipertrofi).
Otot jantung yang membesar akan memiliki kekuatan yang lebih
besar, tetapi pada akhirnya bisa terjadi kelainan fungsi dan menyebabkan
semakin memburuknya gagal jantung.
Penyebab
Frekuensi relatif
Kardiomiopati dilated / tidak
diketahui
45%
Penyakit Jantung
Iskemik
40%
Kelainan
katup
9%
Hipertensi
6%
Sumber : Cardiology and Respiratory
Medicine 2001
Selain itu ada pula faktor presipitasi lain yang dapat memicu
terjadinya gagal jantung, yaitu :
·
Kelebihan Na dalam makanan
·
Kelebihan intake cairan
·
Tidak patuh minum obat
·
Iatrogenic volume overload
·
Aritmia : flutter, aritmia ventrikel
·
Obat-obatan: alkohol, antagonis kalsium, beta bloker
·
Sepsis, hiper/hipotiroid, anemia, gagal ginjal, defisiensi
vitamin B, emboli paru.
Setiap penyakit yang mempengaruhi jantung dan sirkulasi darah
dapat menyebabkan gagal jantung.
Beberapa penyakit dapat mengenai otot jantung dan mempengaruhi
kemampuannya untuk berkontraksi dan memompa darah.
Penyebab paling sering adalah penyakit arteri koroner, yang
menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan bisa menyebabkan
suatu serangan jantung.
Kerusakan otot jantung bisa disebabkan oleh:
·
Miokarditis (infeksi otot jantung karena bakteri, virus atau
mikroorganisme lainnya)
·
Diabetes
·
Kelenjar tiroid yang terlalu aktif
·
Kegemukan (obesitas).
Penyakit katup jantung bisa menyumbat aliran
darah diantara ruang-ruang jantung atau diantara jantung dan arteri utama.
Selain itu, kebocoran katup jantung bisa menyebabkan darah mengalir balik ke
tempat asalnya. Keadaan ini akan meningkatkan beban kerja otot jantung, yang
pada akhirnya bisa melemahkan kekuatan kontraksi jantung. Penyakit lainnya
secara primer menyerang sistem konduksi listrik jantung dan menyebabkan denyut
jantung yang lambat, cepat atau tidak teratur, sehingga tidak mampu memompa
darah secara efektif.
Jika jantung harus bekerja ekstra keras untuk jangka waktu yang
lama, maka otot-ototnya akan membesar; sama halnya dengan yang terjadi pada
otot lengan setelah beberapa bulan melakukan latihan beban. Pada awalnya,
pembesaran ini memungkinkan jantung untuk berkontraksi lebih kuat; tetapi
akhirnya jantung yang membesar bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan memompa
jantung dan terjadilah gagal jantung.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa menyebabkan jantung
bekerja lebih berat.
Jantung juga bekerja lebih berat jika harus mendorong darah
melalui jalan keluar yang menyempit (biasanya penyempitan katup aorta).
Penyebab yang lain adalah kekakuan pada perikardium (lapisan
tipis dan transparan yang menutupi jantung). Kekakuan ini menghalangi
pengembangan jantung yang maksimal sehingga pengisian jantung juga menjadi
tidak maksimal.
Penyebab lain yang lebih jarang adalah penyakit pada bagian
tubuh yang lain, yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan oksigen dan
zat-zat makanan, sehingga jatung yang normalpun tidak mampu memenuhi
peningkatan kebutuhan tersebut dan terjadilah gagal jantung.
Penyebab gagal jantung bervariasi di seluruh dunia karena
penyakit yang terjadipun tidak sama di setiap negara. Misalnya di negara tropis
sejenis parasit tertentu bisa bersemayam di otot jantung dan menyebabkan gagal
jantung pada usia yang jauh lebih muda.
Gejala
Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan
lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak
mendapatkan jumlah darah yang cukup.
Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain
dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi
oleh sisi jantung yang mengalami gangguan.
Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan darah
yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di
kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut.
Gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam
paru-paru (edema pulmoner), yang menyebabkan sesak nafas yang hebat. Pada
awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan
dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita
tidak melakukan aktivitas.
Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari
ketika penderita sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru.
Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan
bunyi mengi. Duduk menyebabkan cairan mengalir dari paru-paru sehingga
penderita lebih mudah bernafas.
Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal
jantung tidur dengan posisi setengah duduk.
Pengumpulan cairan dalam paru-paru yang berat (edema pulmoner
akut) merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera dan
bisa berakibat fatal.
Diagnosa
Untuk menentukan diagnosa dari CHF pada lansia cukup
sulit. Gejala yang ada tidaklah khas. Gejala-gejala seperti sesak
nafas saat beraktivitas atau cepat lelah seringkali dianggap sebagai salah satu
akibat proses menua atau dianggap sebagai akibat dari penyakit penyerta lainnya
seperti penyakit paru, kelainan fungsi tiroid, anemia, depresi, dll.
Pada usia lanjut, seringkali disfungsi diastolik diperberat oleh
PJK. Iskemia miokard dapat menyebabkan kenaikan tekanan pengisian ke
dalam ventrikel kiri dan juga tekanan vena pulmonalis yang meningkat, sehingga
mudah terjadi udem paru dan keluhan sesak nafas.
Gejala yang sering ditemukan adalah sesak nafas, orthopnea,
paroksismal nokturnal dispnea, edema perifer, fatique, penurunan kemampuan
beraktivitas serta batuk dengan sputum jernih. Sering juga didapatkan
kelemahan fisik, anorexia, jatuh dan konfusi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan nilai JVP (Jugularis Venous
Pressure) meninggi. Sering juga terdapat bunyi jantung III, pitting
udem, fibrilasi atrial, bising sistolik akibat regurgitasi mitral serta
ronkhi paru.
CHF menurut New York Heart Assosiation dibagi
menjadi :
·
Grade 1 : Penurunan fungsi ventrikel kiri tanpa gejala.
·
Grade 2 : Sesak nafas saat aktivitas berat
·
Grade 3 : Sesak nafas saat aktivitas sehari-hari.
·
Grade 4 : Sesak nafas saat sedang istirahat.
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan :
Pemeriksaan Rontgen thorax
Nilai besar jantung, ada/tidaknya edema paru dan efusi
pleura. Tapi banyak juga pasien CHF tanpa disertai kardiomegali.
Pemeriksaan EKG
Nilai ritmenya, apakah ada tanda dari strain ventrikel kiri,
bekas infark miokard dan bundle branch block (Disfungsi ve
Echocardiography
Mungkin menunjukkan adanya penurunan fraksi ejeksi ventrikel
kiri, pembesaran ventrikel dan abnormalitas katup mitral.
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan fisik, yang
biasanya menunjukkan:
·
denyut nadi yang lemah dan cepat
·
tekanan darah menurun
·
bunyi jantung abnormal
·
pembesaran jantung
·
pembengkakan vena leher
·
cairan di dalam paru-paru
·
pembesaran hati
·
penambahan berat badan yang cepat
·
pembengkakan perut atau tungkai.
Penatalaksanaan
Gagal jantung dengan disfungsi sistolik
Pada umumnya obat-obatan yang efektif mengatasi gagal jantung
menunjukkan manfaat untuk mengatasi disfungsi sistolik. Gangguan fungsi
sistolik ventrikel kiri hampir selalu disertai adanya aktivitas sistem
neuro-endokrin, karena itu salah satu obat pilihan utama adalah ACE Inhibitor.
ACE Inhibitor, disamping dapat mengatasi gangguan neurohumoral
pada gagal jantung, dapat juga memperbaiki toleransi kerja fisik yang tampak
jelas sesudah 3-6 bulan pengobatan. Dari golongan ACE-I, Kaptopril
merupakan obat pilihan karena tidak menyebabkan hipotensi berkepanjangan dan
tidak terlalu banyak mengganggu faal ginjal pada kasus gagal jantung.
Kontraindikasinya adalah disfungsi ginjal berat dan bila ada stenosis bilateral
arteri renalis.
Diuretika, bertujuan mengatasi retensi cairan sehingga
mengurangi beban volume sirkulasi yang menghambat kerja jantung. Yang
paling banyak dipakai untuk terapi gagal jantung kongestif dari golongan ini
adalah Furosemid. Pada usia lanjut seringkali sudah ada penurunan faal
ginjal dimana furosemid kurang efektif dan pada keadaan ini dapat ditambahkan
metolazone. Pada pemberian diuretika harus diawasi kadar kalium darah
karena diuresis akibat furosemid selalu disertai keluarnya kalium. Pada
keadaan hipokalsemia mudah terjadi gangguan irama jantung.
Obat-obatan inotropik, seperti digoksin
diberikan pada kasus gagal jantung untuk memperbaiki kontraksi ventrikel.
Dosis digoksin juga harus disesuaikan dengn besarnya clearance kreatinin
pasien. Obat-obat inotropik positif lainnya adalah dopamine (5-10
Ugr/kg/min) yang dipakai bila tekanan darah kurang dari 90 mmHg. Bila
tekanan darah sudah diatas 90 mmHg dapat ditambahkan dobutamin (5-20
Ugr/kg/min). Bila tekanan darah sudah diatas 110 mmHg, dosis dopamin dan
dobutamin diturunkan bertahap sampai dihentikan.
Spironolakton, dipakai sebagai terapi gagal jantung kongestif
dengan fraksi ejeksi yang rendah, bila walau sudah diterapi dengan diuretik,
ACE-I dan digoksin tidak menunjukkan perbaikan. Dosis 25 mg/hari dan ini
terbukti menurunkan angka mortalitas gagal jantung sebanyak 25%.
Gagal jantung dengan disfungsi diastolik
Pada usia lanjut lebih sering terdapat gagal jantung dengan
disfungsi diastolik. Untuk mengatasi gagal jantung diastolik dapat dengan
cara:
Memperbaiki sirkulasi koroner dalam mengatasi iskemia miokard
(pada kasus PJK)
Pengendalian tekanan darah pada hipertensi untuk mencegah
hipertrofi miokard ventrikel kiri dalam jangka panjang.
Pengobatan agresif terhadap penyakit komorbid terutama yang
memperberat beban sirkulasi darah, seperti anemia, gangguan faal ginjal dan
beberapa penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus.
Upaya memperbaiki gangguan irama jantung agar terpelihara fungsi
sistolik atrium dalam rangka pengisian diastolik ventrikel.
Obat-obat yang digunakan antara lain:
1.
Antagonis kalsium, untuk memperbaiki relaksasi miokard dan
menimbulkan vasodilatasi koroner.
2.
Beta bloker, untuk mengatasi takikardia dan memperbaiki
pengisian ventrikel.
3.
Diuretika, untuk gagal jantung disertai udem paru akibat
disfungsi diastolik. Bila tanda udem paru sudah hilang, maka pemberian
diuretika harus hati-hati agar jangan sampai terjadi hipovolemia dimana
pengisian ventrikel berkurang sehingga curah jantung dan tekanan darah menurun.
Pemberian antagonis kalsium dan beta bloker harus diperhatikan
karena keduanya dapat menurunkan kontraktilitas miokard sehingga memperberat
kegagalan jantung.
Cardiac Resynchronisation Therapy
Untuk CHF dengan kelainan konduksi (Left bundle branch block)
dapat dilakukan operasi implantasi alat biventricular-pacing untuk mengatasi
dissinkronisasi ventrikelnya. Tapi hal ini juga malah dapat menyebabkan
arrhytmia-induced sudden death. Oleh karena itu dipakai kombinasi dari
alat biventricular-pacing dan cardioverter defibrillation.
Transplantasi jantung
Transplantasi jantung dilakukan pada pasien CHF yang bila tanpa
operasi akan meninggal dalam waktu beberapa minggu. Umumnya dilakukan
pada pasien lansia yang kurang dari 65 tahun, yang tidak memiliki masalah
kesehatan yang serius lainnya. Lebih dari 75% pasien transplantasi
jantung hidup lebih lama dari 2 tahun sesudah operasinya. Sebagian bahkan
dapat hidup sampai lebih dari 12 tahun.
Walaupun begitu, operasi transplantasi jantung merupakan suatu
operasi besar yang sangat sulit dan banyak persyaratannya, mengingat :
·
Perlunya organ donor yang sesuai.
·
Prosedur operasinya sendiri yang sangat rumit dan traumatik.
·
Perlu adanya pusat spesialis.
·
Perlunya obat-obatan imunosupressan setelah operasi untuk
mengurangi risiko penolakan organ oleh tubuh.
·
Beberapa kasus timbul antibodi yang menyerang bagian dalam dari
arteri koronaria dalam waktu kira-kira setahun setelah operasi. Masalah
ini tidak ada pengobatannya dan dapat berakhir dengan serangan jantung
yang fatal.
Menghilangkan Faktor Yang Memperburuk Gagal
Jantung
Merokok, garam, kelebihan berat badan dan alkohol akan
memperburuk gagal jantung.
Dianjurkan untuk berhenti merokok, melakukan perubahan pola
makan, berhenti minum alkohol atau melakukan olah raga secara teratur untuk
memperbaiki kondisi tubuh secara keseluruhan.
Untuk penderita gagal jantung yang berat, tirah baring selama
beberapa hari merupakan bagian penting dari pengobatan.
Penggunaan garam yang berlebihan dalam makanan sehari-hari bisa
menyebabkan penimbunan cairan yang akan menghalangi pengobatan medis. Jumlah
natrium dalam tubuh bisa dikurangi dengan membatasi pemakaian garam dapur,
garam dalam masakan dan makanan yang asin. Penderita gagal jantung yang berat
biasanya akan mendapatkan keterangan terperinci mengenai jumlah asupan garam
yang masih diperbolehkan.
Cara yang sederhana dan dapat dipercaya untuk mengetahui adanya
penimbunan cairan dalam tubuh adalah dengan menimbang berat badan setiap hari.
Kenaikan lebih dari 1 kg/hari hampir dapat dipastikan disebabkan oleh
penimbunan cairan. Penambahan berat badan yang cepat dan terus menerus
merupakan petunjuk dari memburuknya gagal jantung.
Karena itu penderita gagal jantung diharuskan
menimbang berat badannya setepat mungkin setiap hari, terutama pada pagi hari ,
setelah berkemih dan sebelum sarapan. Timbangan yang digunakan harus sama,
jumlah pakaian yang digunakan relatif sama dan dibuat catatan tertulis.
Mengobati Gagal Jantung
Pengobatan terbaik untuk gagal jantung adalah pencegahan atau
pengobatan dini terhadap penyebabnya.
Gagal Jantung Kronis.
Jika pembatasan asupan garam saja tidak dapat mengurangi
penimbunan cairan, bisa diberikan obat diuretik untuk menambah pembentukan air
kemih dan membuang natrium dan air dari tubuh melalui ginjal.
Mengurangi cairan akan menurunkan jumlah darah yang masuk ke
jantung sehingga mengurangi beban kerja jantung. Untuk pemakaian jangka
panjang, diuretik diberikan dalam bentuk sediaan per-oral (ditelan); sedangkan
dalam keadaan darurat akan sangat efektif jika diberikan secara intravena
(melalui pembuluh darah). Pemberian diuretik sering disertai dengan pemberian
tambahan kalium, karena diuretik tertentu menyebabkan hilangnya kalium dari
tubuh; atau bisa digunakan diuretik hemat kalium.
Digoksin meningkatkan kekuatan setiap denyut jantung dan
memperlambat denyut jantung yang terlalu cepat. Ketidakteraturan irama jantung
(aritmia, dimana denyut jantung terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak
teratur), bisa diatasi dengan obat atau dengan alat pacu jantung buatan.
Sering digunakan obat yang melebarkan pembuluh darah
(vasodilator), yang bisa melebarkan arteri, vena atau keduanya. Pelebar arteri
akan melebarkan arteri dan menurunkan tekanan darah, yang selanjutnya akan
mengurangi beban kerja jantung.
Pelebar vena akan melebarkan vena dan menyediakan ruang yang
lebih untuk darah yang telah terkumpul dan tidak mampu memasuki bagian kanan
jantung.
Hal ini akan mengurangi penyumbatan dan mengurangi beban
jantung.
Vasodilator yang paling banyak digunakan adalah ACE-inhibitor
(angiotensin converting enzyme inhibitor).
Obat ini tidak hanya meringankan gejala tetapi juga
memperpanjang harapan hidup penderita.
ACE-inhibitor melebarkan arteri dan vena; sedangkan obat
terdahulu hanya melebarkan vena saja atau arteri saja (misalnya nitrogliserin
hanya melebarkan vena, hydralazine hanya melebarkan arteri).
Ruang jantung yang melebar dan kontraksinya
jelek memungkinkan terbentuknya bekuan darah di dalamnya. Bekuan ini bisa pecah
dan masuk ke dalam sirkulasi kemudian menyebabkan kerusakan di organ vital
lainnya, misalnya otak dan menyebabkan stroke. Oleh karena itu diberikan obat
antikoagulan untuk membantu mencegah pembentukan bekuan dalam ruang-ruang
jantung.
Milrinone dan amrinone menyebabkan pelebaran arteri dan vena,
dan juga meningkatkan kekuatan jantung. Obat baru ini hanya digunakan dalam
jangka pendek pada penderita yang dipantau secara ketat di rumah sakit, karena
bisa menyebabkan ketidakteraturan irama jantung yang berbahaya.
Pencangkokan jantung dianjurkan pada penderita yang tidak
memberikan respon terhadap pemberian obat.
Kardiomioplasti merupakan pembedahan dimana sejumlah besar otot
diambil dari punggung penderita dan dibungkuskan di sekeliling jantung,
kemudian dirangsang dengan alat pacu jantung buatan supaya berkontraksi secara
teratur.
Gagal Jantung Akut.
Bila terjadi penimbunan cairan tiba-tiba dalam paru-paru (edema
pulmoner akut), penderita gagal jantung akan mengalami sesak nafas hebat
sehingga memerlukan sungkup muka oksigen dengan konsentrasi tinggi. Diberikan
diuretik dan obat-obatan (misalnya digoksin) secara intravena supaya terjadi
perbaikan segera.
Nitrogliserin intravena atau sublingual (dibawah lidah) akan
menyebabkan pelebaran vena, sehingga mengurangi jumlah darah yang melalui paru-paru.
Jika pengobatan di atas gagal, pernafasan penderita dibantu
dengan mesin ventilator.
Kadang dipasang torniket pada 3 dari keempat anggota gerak
penderita untuk menahan darah sementara waktu, sehingga mengurangi volume darah
yang kembali ke jantung.
Torniket ini dipasang secara bergantian pada setiap anggota
gerak setiap 10-20 menit untuk menghindari cedera.
Pemberian morfin dimaksudkan untuk:
·
mengurangi kecemasan yang biasanya menyertai edema pulmoner akut
·
mengurangi laju pernafasan
·
memperlambat denyut jantung
·
mengurangi beban kerja jantung
Prognosis
Prognosis CHF tergantung dari derajat disfungsi
miokardium. Menurut New York Heart Assosiation, CHF kelas I-III
didapatkan mortalitas 1 dan 5 tahun masing-masing 25% dab 52%. Sedangkan
kelas IV mortalitas 1 tahun adalah sekitar 40%-50%.
Manifestasi klinisnya berupa kelelahan dan sesak nafas. Dan
biasanya terganggu saat melakukan aktivitas, juga saat mendapatkan cairan misal
kalau diberi infuse. Yang mungkin disebabkan karena kongesti pulmonal maupun edema.
Prevalensi makin lama makin meningkat. Waktu umur
50-59 baru dikit. Tapi begitu usia 80-an langsung banyak terjadi.
Angka kematian akibat gagal jantung juga makin meningkat. Kini
gagal jantung sudah merupakan penyakit. Kalau dulu gagal jantung hanya disebut
sebagai akibat aja dari penyakit lain.
Gagal jantung ini menjadi suatu masalah kesehatan masyarakat
utama. Soalnya orang yang menderita gagal jantung ini sudah ‘lumpuh’. Yang
awalnya jadi idola keluarga trus jadi nggak bisa ngapa-ngapin dan sangat
bergantung pada keluarganya. Jadinya berpengaruh terhadap kehidupan social
ekonomi keluarga itu sendiri juga.
Hormon-hormon banyak berpengaruh terhadap
terjadinya gagal jantung.
Norepinefrin :
menyebabkan vaso kontriksi, peningkatan denyut jantung dan myosyte toksik·
Angiotensin II :
menyebabkan vaso kontriksi aldosteron, menstimulasi pelepasan aldosteron, dan
mengaktivkan sistem saraf simpatis.·
Aldosteron menyebabkan
retensi sodium dan air·
Endotheline menyebabkan
vaso kontriksi dan dan myosyte toksik.·
Vasopressin menyebabkan
vaso kontriksi dan reabsorbsi air·
TNF-α menyebabkan nyosyte
toksik secara langsung·
IL-1 dan IL-6 menyebabkan
myosyte toksik·
Atrian natriuretic
peptide dan brain nautriuretic peptide menyebabkan vaso dilatasi, ekskresi sodium,
dan antiproliferatif efek pada myosyte.·
Keluhan utama : kelelahan saat beraktivitas dan sesak
napas.
Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan
lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak
mendapatkan jumlah darah yang cukup.
Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan.
Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan.
Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan
darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan
di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut.
Terjadi karena : karena otot-ototnya tidak mendapatkan
jumlah darah yang cukup dan karena cairan bergerak ke dalam paru-paru.
Proses terjadinya : Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi
pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit,
sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas.
Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita
sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru. Penderita sering
terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi. Duduk
menyebabkan cairan mengalir dari paru-paru sehingga penderita lebih mudah
bernafas.
Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal
jantung tidur dengan posisi setengah duduk.
Pengumpulan cairan dalam paru-paru yang berat (edema pulmoner
akut) merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera dan
bisa berakibat fatal.
Ciri khasnya :
1. Nyeri, selama melakukan aktivitas, akan merasa nyeri di
beberapa bagian tubuh. Dada terasa nyeri, sesak karena otot jantung tidak
mendapat cukup asupan darah.
2. Sesak nafas, masuknya cairan kedalam rongga paru-paru sehingga
mengganggu aliran udara dalam paru-paru.
3. Kelelahan/kepenatan, otot jantung yang melemah menyebabkan
proses pemompoaan darah kurang sempurna.
4. Jantung berdebar, jantung berdebar tanda sakit jantung adalah
jenis debar yang bersamaan dengan gejala lain yaitu saat seseorang kelelahan,
sesak nafas dan nyeri di tubuh.
5. Pusing dan pingsan, pemompaan darah yang tidak normal
sehingga pemasukan darah bersih menjadi terganggu, seseorang bisa merasakan
pusing akibat kurang darah. detak jantung melemah yang megakibatkan penderita
pingsan.
Upaya Menangani Penyakit Gagal Jantung
Biasanya, diagnosa ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala yang
dikeluhkan ataupun yang terlihat langsung saat dilakukan pemeriksaan. Untuk
memperkuat diagnosa, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan, misalnya ;
Pemeriksaan fisik, adanya denyut nadi yang lemah dan cepat,
tekanan darah menurun, bunyi jantung abnormal, pembesaran jantung, pembengkakan
vena leher, cairan di dalam paru-paru, pembesaran hati, penambahan berat badan
yang cepat, pembengkakan perut atau tungkai.
1.
Pemeriksaan Rontgen atau X-ray (ronsen), pada bagian dada bisa
menunjukkan adanya pembesaran jantung dan pengumpulan cairan di dalam
paru-paru.
2.
Pemeriksaan ekokardiografi (menggunakan gelombang suara untuk
menggambarkan jantung) dan elektrokardiografi (menilai aktivitas listrik dari
jantung).
Pengobatan Penyakit Gagal Jantung
Dalam penatalaksanaan atau perawatan pasien dengan kasus
penyakit gagal jantung, ada tiga hal mendasar yang menjadi acuan, diantaranya ;
Pengobatan terhadap Gagal jantung sendiri, Pengobatan terhadap penyakit yang
mendasari dan Pengobatan terhadap faktor pencetus.
Termasuk dalam pengobatan medikamentosa yaitu mengurangi retensi cairan dan garam, meningkatkan kontraktilitas dan mengurangi beban jantung. Sedangkan penanganan secara umum meliputi istirahat, pengaturan suhu dan kelembaban, oksigen, pemberian cairan dan diet.
Termasuk dalam pengobatan medikamentosa yaitu mengurangi retensi cairan dan garam, meningkatkan kontraktilitas dan mengurangi beban jantung. Sedangkan penanganan secara umum meliputi istirahat, pengaturan suhu dan kelembaban, oksigen, pemberian cairan dan diet.
Pemberian obat-obatan, seperti obat inotropik (digitalis, obat
inotropik intravena), obat vasodilator (arteriolar dilator : hidralazin),
venodilator (nitrat, nitrogliserin), mixed dilator (prazosin, kaptopril,
nitroprusid), diuretik serta obat-obatan disritmia.
Tindakan pembedahan, hal ini biasanya dilakukan untuk mengatasi
penyakit jantung bawaan (paliatif, korektif) dan penyakit jantung didapat
(valvuloplasti, penggantian katup).
MYOCARDIAL INFARCTION
Myocardial infarction atau orang sering menyebutnya serangan
jantung yang terjadi ketika pasokan darah ke otot jantung berkurang atau tidak
sepenuhnya diblokir karena adanya halangan dalam satu atau lebih yang koroner
arteries yang mengelilingi jantung. Bila ini terjadi, otot jantung adalah
deprived of penting oksigen dan akhirnya akan berhenti bekerja.
Kebanyakan orang tidak mengetahui gejala-gejala yang timbul pada penderita sehingga penanganan yang dilakukan sudah bisa dikatakan terlambat dan menyebabkan kematian. Serangan jantung banyak memberikan sumbangan kepada jumlah kematian di Indonesia. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 50.000 orang di Australia mati dari serangan jantung setiap tahun. Bahkan, sekitar sepertiga dari semua kematian orang-orang di bawah usia 75 tahun adalah hasil dari sebuah serangan jantung, yang membuatnya salah satu penyebab kematian di Australia.
Kebanyakan orang tidak mengetahui gejala-gejala yang timbul pada penderita sehingga penanganan yang dilakukan sudah bisa dikatakan terlambat dan menyebabkan kematian. Serangan jantung banyak memberikan sumbangan kepada jumlah kematian di Indonesia. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 50.000 orang di Australia mati dari serangan jantung setiap tahun. Bahkan, sekitar sepertiga dari semua kematian orang-orang di bawah usia 75 tahun adalah hasil dari sebuah serangan jantung, yang membuatnya salah satu penyebab kematian di Australia.
Keluhan Utama : Nyeri dada
Terjadi karena : segala nyeri dada mungkin berasal dari
jantung. Angina adalah istilah yang diberikan pada nyeri yang terjadi karena
pembuluh-pembuluh darah ke otot jantung meyempit dan mengurangi jumlah oksigen
yang dapat dikirim ke jantung sendiri. Ini dapat menyebabkan gejala-gejala
klasik dari tekanan atau keketatan dada dengan radiasi ke lengan atau leher
yang berhubungan dengan sesak napas dan berkeringat.
Proses terjadinya : sesak napas, atau kelemahan dan
malaise (tidak enak badan).
1. Nyeri dada yang dilukiskan sebagai:
a. Sesak,
b. Nyeri seperti saat salah cerna,
c. Seperti terjatuh,
d. Seperti ada yang membebat dada,
e. Sepeti ada orang yang duduk di dada
2. Nyeri menjalar ke tangan kiri, kedua tangan dan atau ke dagu.
3. Nyeri kemungkinan diikuti dengan:
a. Berkeringat,
b. Napas pendek,
c. Mual dan muntah
Ciri khasnya : Nyeri hebat pada dada
kiri menyebar ke bahu kiri, leher kiri dan lengan atas kiri, kebanyakan lamanya
30 menit sampai beberapa jam, sifatnya seperti ditusuk-tusuk, ditekan,
tertindik.
Karakteristik : Karakteristik yang
khas dari MI adalah nyeri dada. Nyeri dada pada MI merupakan suatu kondisi yang
memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Keluhan nyeri dada ini muncul
menandakan terjadinya proses ischemia pada miokard jantung
yang sedang berlangsung. Apabila proses ischemia ini tidak
diintervensi dengan baik dan berlangsung lama, maka akan terjadi nekrosis atau
kematian otot yang bersifat irreversibel. Penyebab nyeri dada adalah
ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan oksigen miokard yang
disebabkan suplai oksigen berkurang atau kebutuhan oksigen meningkat.
Upaya Menangani Myocardial Infarction :
Terapi Farmakologis :
·
Glikosida jantung.Digitalis , meningkatkan kekuatan kontraksi
otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung.Efek yang dihasilkan :
peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan
peningkatan diuresisidan mengurangi edema
·
Terapi diuretik.Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air
mlalui ginjal.Penggunaan hrs hati – hati karena efek samping hiponatremia dan
hipokalemia
·
Terapi vasodilator.Obat-obat fasoaktif digunakan untuk
mengurangi impadansi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat
ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga
tekanan engisian ventrikel kiri dapat dituruinkan
·
Dukungan diet:Pembatasan Natrium untuk mencegah, mengontrol,
atau menghilangkan edema.
Pencegahan
Sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit arteri koroner, terutama yang dapat dirubah oleh penderita:
Sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit arteri koroner, terutama yang dapat dirubah oleh penderita:
Berhenti merokok
·
Menurunkan berat badan
·
Mengendalikan tekanan darah
·
Menurunkan kadar kolesterol darah dengan diet atau dengan obat
·
Melakukan olah raga secara teratur.
GANGGUAN IRAMA
Jantung yang berdetak terlalu cepat atau lambat akan
mempengaruhi pasokan darah ke seluruh tubuh. Akibatnya fatal, bahkan kematian
bukan tidak mustahil menimpa. Lalu apa yang harus dilakukan untuk
menghindarinya?
Kematian mendadak akibat gagalnya fungsi jantung
sering menimpa banyak orang. Satu contoh nyata adalah kematian yang menimpa
pilot Sriwijaya Air awal bulan ini. Kematian pilot tersebut diperkirakan
disebabkan denyut jantung yang terlalu cepat. “Yang dimaksud dengan gangguan
irama jantung merupakan kelainan denyut jantung yang terlalu cepat atau
lambat,” kata Dr Yoga Yuniadi SpJP, ahli penyakit jantung dan elektrofisiologi,
menjelaskan hal ini. Yoga yang ditemui usai pembukaan “Jakarta Heart dan
Vaskular Center (JHVC)” di RSMK Kelapa Gading Jakarta Utara, akhir minggu lalu,
menjelaskan kalau penyakit ini bisa diindentifikasi, bila seseorang memiliki
denyut jantung di atas atau di bawah irama detak jantung normal. “Secara normal
kecepatan denyut jantung pada saat istirahat sekitar enam puluh hingga seratus
per menitnya,” katanya. “Jadi bila denyut jantung saat istirahat di atas
seratus kali per menit, ia bisa diperkirakan menderita gangguan irama jantung,”
urainya. “Begitu pula bila detak jantung di bawah enam puluh kali per menit.
Maka ia bisa diperkirakan mengalami gangguan irama jantung lemah.”
Penyakit ini, menurutnya, tidak bisa diremehkan. Menurut data
terakhir diperkirakan hingga 90 persen kematian mendadak, disebabkan gangguan
irama jantung terlalu cepat.
Gejalanya sendiri menurut Yoga bisa bervariasi. Mulai dari jantung yang sering berdebar, pingsan mendadak, hingga akhirnya kematian. “Uniknya penyakit ini bisa menimpa berbagai kalangan umur. Mulai dari bayi hingga orang tua,” imbuh Yoga. Pada bayi kadang ditemui kadar detak jantung yang terlalu lemah. “Ini bisa saja disebabkan karena memang ada kelainan sejak lahir,” urainya. Namun bisa juga ini disebabkan perilaku orang tua yang tak sehat, seperti sering merokok, minum kopi berlebih, mengosumsi alkohol terlalu banyak atau minum coklat dengan tak teratur. “Selain juga ada perangsang dari keadaan psikis dan lingkungan di dalamnya,” kata Yoga.
Gejalanya sendiri menurut Yoga bisa bervariasi. Mulai dari jantung yang sering berdebar, pingsan mendadak, hingga akhirnya kematian. “Uniknya penyakit ini bisa menimpa berbagai kalangan umur. Mulai dari bayi hingga orang tua,” imbuh Yoga. Pada bayi kadang ditemui kadar detak jantung yang terlalu lemah. “Ini bisa saja disebabkan karena memang ada kelainan sejak lahir,” urainya. Namun bisa juga ini disebabkan perilaku orang tua yang tak sehat, seperti sering merokok, minum kopi berlebih, mengosumsi alkohol terlalu banyak atau minum coklat dengan tak teratur. “Selain juga ada perangsang dari keadaan psikis dan lingkungan di dalamnya,” kata Yoga.
Penyembuhan
Tak dipungkiri bila menghadapi kondisi seperti ini memang bisa menakutkan. Memang, kematian bisa datang kapan saja, namun dengan adanya penyakit ini kematian bisa datang dengan lebih besar potensinya. “Sebenarnya kalau mau diselusuri, penyakit ini disebabkan karena terganggunya fungsi atrial fibrillation pada jantung,” kata Yoga lagi. Kelainan ini menurut ahli jantung di JHVC yang lain, yaitu Dr. Utojo Lubiantoro, SpPJ, bisa disebabkan berbagai hal. Namun yang jelas, penyakit seperti ini sebenarnya sudah bisa disembuhkan dengan teknologi yang ada sekarang. “Dengan tindakan ablasi dan elektrofisiologi, penyakit ini bisa disembuhkan secara sempurna,” urai Utojo. Ablasi sendiri merupakan tindakan memutus sumber gangguan dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan dari gelombang frekuensi radio. “Teknik ablasi sebenarnya cukup efektif, karena mampu membuat penderita tidak perlu lagi mengonsumsi obat-obatan selain juga memiliki tingkat keberhasilan hingga sembilan puluh lima persen banyaknya,” tambah Utojo, yang memiliki jadwal praktik sepanjang minggu di JHVC. Untuk penderita gangguan irama jantung lambat, biasanya terapi penyembuhan yang dilakukan dengan memasang alat pacu jantung permanen. “Itu dilakukan untuk menjamin kecukupan frekuensi denyut jantung,” urainya. Dengan begitu, pasien harus menjalani operasi kecil untuk memasang alat tersebut. Biasanya alat ditaruh di bawah kulit dada, lalu dihubungkan ke jantung dengan sejenis kabel.(Sinar Harapan ,Sulung Prasetyo, Dari Berbagai Sumber) Suggest Admin Gunakan Essensial Oil Lavender Aromateraphy untuk menstabilkan gangguan irama jantung.
Tak dipungkiri bila menghadapi kondisi seperti ini memang bisa menakutkan. Memang, kematian bisa datang kapan saja, namun dengan adanya penyakit ini kematian bisa datang dengan lebih besar potensinya. “Sebenarnya kalau mau diselusuri, penyakit ini disebabkan karena terganggunya fungsi atrial fibrillation pada jantung,” kata Yoga lagi. Kelainan ini menurut ahli jantung di JHVC yang lain, yaitu Dr. Utojo Lubiantoro, SpPJ, bisa disebabkan berbagai hal. Namun yang jelas, penyakit seperti ini sebenarnya sudah bisa disembuhkan dengan teknologi yang ada sekarang. “Dengan tindakan ablasi dan elektrofisiologi, penyakit ini bisa disembuhkan secara sempurna,” urai Utojo. Ablasi sendiri merupakan tindakan memutus sumber gangguan dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan dari gelombang frekuensi radio. “Teknik ablasi sebenarnya cukup efektif, karena mampu membuat penderita tidak perlu lagi mengonsumsi obat-obatan selain juga memiliki tingkat keberhasilan hingga sembilan puluh lima persen banyaknya,” tambah Utojo, yang memiliki jadwal praktik sepanjang minggu di JHVC. Untuk penderita gangguan irama jantung lambat, biasanya terapi penyembuhan yang dilakukan dengan memasang alat pacu jantung permanen. “Itu dilakukan untuk menjamin kecukupan frekuensi denyut jantung,” urainya. Dengan begitu, pasien harus menjalani operasi kecil untuk memasang alat tersebut. Biasanya alat ditaruh di bawah kulit dada, lalu dihubungkan ke jantung dengan sejenis kabel.(Sinar Harapan ,Sulung Prasetyo, Dari Berbagai Sumber) Suggest Admin Gunakan Essensial Oil Lavender Aromateraphy untuk menstabilkan gangguan irama jantung.
DETAK jantung normal antara 60-100 kali per menit
waktu istirahat. Bila tiba-tiba detak jantung melonjak ataupun menurun secara
drastis tanpa sebab jelas, waspadai gangguan irama jantung.
Gangguan irama jantung (aritmia) merupakan kelainan detak
jantung yang terlalu cepat atau lambat pada seseorang.
Keluhan utama :
“Keluhannya berdebar-debar, tiba-tiba saja. Nadinya tiba-tiba
melonjak dari sekitar 80 kali per menit menjadi 160 kali per menit. Biasanya,
setelah dibawa ke rumah sakit untuk disuntikkan obat isoptin, baru reda.
Terjadi karena : Gangguan irama jantung
terjadi karena sebagian sel penyusun otot jantung mengalami kerusakan setelah
mengalami serangan jantung. Sel-sel rusak yang dinamakan sel myofibroblast ini
tidak bisa berdenyut, sehingga menyebabkan irama atau ritme jantung tidak
beraturan.
Pemicunya beragam, mulai dari keturunan, saraf abnormal, maupun
kondisi tubuh yang terlalu letih. keluhan gangguan irama jantung tidak ada
hubungannya dengan kesehatan, tekanan darah, ataupun kadar kolesterol yang
normal pada diri seseorang.
Ciri khasnya : “Tiba-tiba yang tidak
ada sebabnya. Anda sedang ganti posisi, tiba-tiba berdebar-debar. Tempo hari,
pasien saya mengira dirinya kurang darah dengan gejala berkeringat, denyut nadi
cepat, padahal ternyata kena gangguan irama jantung. Nyatanya, gangguan
irama jantung bisa menyerang siapa saja, baik usia muda maupun tua.
Upaya Menangani gangguan irama :
Berbagai bentuk penanganan gangguan irama jantung, bisa dengan
konsumi obat-obatan, ablasi konvensional, maupun ablasi 3-dimensi.
“Kasih obat dulu, kalau obatnya cukup manjur, oke saja. Kalau
tidak manjur dan masih tetap terjadi (gangguan irama jantung), maka dilakukan
ablasi. Semua tetap tergantung dari kondisi pasiennya,” papar DR dr Muhammad
Munawar SpJP (K) FIHA FESC FACC FSCAI FAPSIC FASCC FCAPSC, ahli penyakit
jantung RS Jantung Binawaluya saat berbincang dengan okezone di RS Jantung
Binawaluya, Jakarta Timur, baru-baru ini. Teknologi ablasi 3-dimensi adalah
suatu tindakan untuk mengatasi gangguan irama jantung dengan menggunakan
pemetaan 3-dimensi (3D Mapping) dari struktur jantung. Teknologi ablasi
3-dimensi dapat memetakan secara sistematis konduksi listrik jantung sehingga
dapat diketahui letak sumber aliran listrik abnormal dengan lebih tepat. Sistem
navigasi ablasi yang telah dicipatakan sejak 1993 ini terdiri atas dua jenis, yaitu
Carto XP Navigation dan EnSite NavX Navigation.
Keuntungan teknik 3D Mapping tak hanya dirasakan oleh pasien,
tapi juga operator atau dokter yang menangani. Keuntungan untuk pasien, di
antaranya pemetaan yang dihasilkan bisa lebih luas dan kemungkinan gagal
(terjadinya perforasi/robek, gangguan irama jantung, sistem konduksi listrik,
dan sebagainya) lebih kecil dibandingkan teknik lain. Sementara untuk operator,
teknik 3D Mapping mempermudah dan mempersingkat waktu penatalaksanaan prosedur
sehingga otomatis mengurangi pemakaian Fluoro (X-ray).
KRISIS HIPERTENSI
Penderita hipertensi yang tidak terkontrol
sewaktu waktu bisa jatuh kedalam keadaan gawat darurat. Diperkirakan sekitar
1-8% penderita hipertensi berlanjut menjadi “Krisis Hipertensi”, dan banyak
terjadi pada usia sekitar 30-70 tahun. Tetapi krisis hipertensi jarang
ditemukan pada penderita dengan tekanan darah normal tanpa penyebab sebelumnya.
Pengobatan yang baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi menjadi kurang dari 1 %. Krisis Hipertensi adalah keadaan yang sangat berbahaya, karena terjadi kenaikan tekanan darah yang tinggi dan cepat dalam waktu singkat. Biasanya tekanan diastolik lebih atau sama dengan 130 mmHg dan menetap lebih dari 6 jam, disertai dengan gangguan fungsi jantung, ginjal dan otak serta retinopati tingkat III – IV menurut Keith-Wagner (KW).
Beberapa keadaan yang termasuk keadaan darurat hipertensi atau krisis hipertensi akut adalah :
1. Ensefalopati Hipertensi.
2. Hipertensi Maligna.
3. Hipertensi dengan komplikasi :
a. Gagal jantung kiri akut
b. Perdarahan intra kranial
c. Perdarahan pasca operasi
d. Aortic dessection.
4. Eklamsia.
5. Feokromositoma.
PENGELOLAAN
Pengobatan yang baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi menjadi kurang dari 1 %. Krisis Hipertensi adalah keadaan yang sangat berbahaya, karena terjadi kenaikan tekanan darah yang tinggi dan cepat dalam waktu singkat. Biasanya tekanan diastolik lebih atau sama dengan 130 mmHg dan menetap lebih dari 6 jam, disertai dengan gangguan fungsi jantung, ginjal dan otak serta retinopati tingkat III – IV menurut Keith-Wagner (KW).
Beberapa keadaan yang termasuk keadaan darurat hipertensi atau krisis hipertensi akut adalah :
1. Ensefalopati Hipertensi.
2. Hipertensi Maligna.
3. Hipertensi dengan komplikasi :
a. Gagal jantung kiri akut
b. Perdarahan intra kranial
c. Perdarahan pasca operasi
d. Aortic dessection.
4. Eklamsia.
5. Feokromositoma.
PENGELOLAAN
Tujuan pengobatan pada keadaan darurat hipertensi ialah
menurunkan tekanan darah secepat dan seaman mungkin yang disesuaikan dengan
keadaan klinis penderita. Pengobatan biasanya diberikan secara parenteral dan
memerlukan pemantauan yang ketat terhadap penurunan tekanan darah untuk
menghindari keadaan yang merugikan atau munculnya masalah baru.
Obat yang ideal untuk keadaan ini adalah obat yang mempunyai
sifat bekerja cepat, mempunyai jangka waktu kerja yang pendek, menurunkan
tekanan darah dengan cara yang dapat diperhitungkan sebelumnya, mempunyai efek
yang tidak tergantung kepada sikap tubuh dan efek samping minimal.
1. Diazoxide
Adalah derivat benzotiadiazin, obat ini menurunkan tekanan darah
secara kuat dan cepat dengan mempengaruhi secara langsung pada otot polos
arterial, sehingga terjadi penurunan tekanan perifer tanpa mengurangi curah
jantung atau aliran darah ke ginjal. Tetapi menurut beberapa penulis, diazoxide
juga menaikkan isi sekuncup, isi semenit dan denyut jantung permenit, sehingga
tidak dianjurkan pada krisis hipertensi yang disertai aorta diseksi atau
kelainan coroner. Efek samping dari diazoxide adalah : hipoglikemi,
hiperurikemi dan dapat menembus plasenta sehingga mempengaruhi metabolisme
janin sehingga tidak direkomendasikan untuk krisis hipertensi pada kasus
eklamsia. Diazoxide diberikan dengan intravena 75-300 mg selama 10-30 detik,
penurunan tekanan darah akan tampak dalam waktu 1-2 menit, pengaruh puncak
dicapai antara 2-3 menit, dan bertahan 4-12 jam.
Untuk penderita dengan perdaraham otak, dianjurkan pemberian intra vena sebesar 500-1.000 mg. Pemberian dapat diulang setiap 10-15 menit sampai didapat tekanan diastolik 100-105 mmHg.
Untuk penderita dengan perdaraham otak, dianjurkan pemberian intra vena sebesar 500-1.000 mg. Pemberian dapat diulang setiap 10-15 menit sampai didapat tekanan diastolik 100-105 mmHg.
2. Sodium Nitropusid
Sodium nitropusid merupakan vasodilator pada arteri dan vena.
Obat ini dapat menurunkan isi sekuncup dan isi semenit jantung. Untuk
menghindari hipotensi, pengawasan ketat harus dilakukan pada pemberian obat
ini. Dosis : 0,3-0,6 ug/kgBB/menit, dinaikkan pelan-pelan sampai tercapai
penurunan tekanan darah yang cukup. Penurunan tekanan darah terjadi dalam
beberapa detik dan puncak tercapai dalam 1-2 menit, hanya berlangsung 3-5
menit.
Efek samping : takikardi dan sakit kepala.
Efek samping : takikardi dan sakit kepala.
3. Trimetapan (Artonad)
Merupakan penghambat ganglion, bekerja dengan cara menurunkan
isi sekuncup jantung dan isi semenit jantung. Obat ini baik digunakan pada
kasus krisis hipertensi dengan payah jantung atau diseksi aorta anerisma Dosis
: 500 mg/500 cc Dextrosa 5% dengan kecepatan 0,25 mg%/menit, kemudian dinaikkan
perlahan sampai dicapai penurunan tekanan yang dikehendaki, yaitu tekanan
diastolik 110 mmHg dalam waktu 1 jam. Jangka waktu kerja 5-15 menit. Infus
diberikan dengan posisi duduk, untuk menghindari efek hipotensi yang
berlebihan.
4. Hidralazin (Apresolin)
Obat ini bekerja langsung pada otot polos arterial dan
menimbulkan vasodilatasi perifer, tanpa menurunkan aliran darah ke ginjal.
Tetapi hidralazin menaikkan denyut jantung permenit, isi sekuncup dan isi
semenit jantung. Hidralazin direkomendasikan untuk diberikan pada toksemia
gravidarum dan krisis hipertensi dengan ensefalopati Dosis : 5-20 mg diberikan
intramuskular setiap 2-4 jam, atau ecara intra vena (1 ampul dari 20 mg/ml
dilarutkan dalam 300 cc NaCl 0,9%) dengan kecepatan 10-60 tetes/menit.
Penurunan tekanan darah terjadi dalam 10-20 menit, berlangsung sampai 1 jam.
Apabila selama 30 menit tidak berhasil, dapat diulang tiap 3-6 jam.
5. Klonidin (Catapres)
Merupakan derivat imidazolin, yang merangsang reseptor alfa
adrenergik pada batang otak, mengakibatkan penurunan discharge symphatis,
sehingga menurunkan tekanan vaskular sistemik, juga menekan pengeluaran renin
oleh ginjal. Klonidin diberikan intravena 1 ampul (150 ug) diencerkan dalam 10
ml NaCl 0,9% dalam waktu 10 menit. Efek penurunan tekanan terjadi dalam waktu
5-10 menit. Pemberian intramuskular, 1-2 ampul dan dulang dalam 3-4 jam,
terjadi penurunan tekanan dalam waktu 10-15 menit. Pemberian IM dinilai lebih
aman dan terkontrol, tetapi kurang dalam kekuatan dan kecepatan dibanding dengan
Diazoxide, Sodium Nitroprusid dan Trimetapan. Efek samping yang muncul biasanya
adalah mulut kering dan kantuk yang hebat. Obat ini direkomendasikan dipakai
untuk krisis hipertensi dengan eklamsia dan aorta anerisma.
6. Kaptopril (Kapoten)
Obat ini cukup memberikan harapan karena menaikkan kecepatan
filtrasi glomeruli dengan menhambat pembentukan vaso konstriktor yang sangat
kuat (angiotensin II) dan juga menghambat perusakan vasodilator yang kuat
(bradikinin). Dosis awal 12,5 mg, dinaikkan pelan-pelan sampai dosis optimal.
Diuretik dapat memberikan efek potensiasi.
7. Pentolamin dan Penoxi Benzamin
Kedua obat merupakan penghambat alfa adrenergik, diberikan
terutama untuk feokromositoma atau karena hambatan MAO (mono amino oksidase).
Dosis : 5-15 mg IV, akan menurunkan tekanan darah dalam 10-15 menit.
8. Antagonis Kalsium (Nifedipin)
Antagonis kalsium (Nifedipin, Diltiazem dan Verapamil) bekerja
dengan menghambat pemasukan ion kalsium ke dalam sel dan merupakan vaso
dilatator kuat yang mempunyai daya aksi jangka panjang. Nifedipin mempunyai
harapan dalam pengobatan darurat dengan cara menurunkan tahanan perifer dengan
melemaskan otot polos pembuluh darah, tidak menimbulkan depresi pada miokard
dan tidak mempunyai sifat antiaritmia.
Dosis : 1-2 tablet (10-20mg) dosis tunggal. Pemberian sublingual dapat memberikan efek yang lebih cepat, yaitu beraksi dalam 3 menit setelah pemberian. Apabila penderita tidak sadar dapat diberikan lewat pipa lambung.
Dosis : 1-2 tablet (10-20mg) dosis tunggal. Pemberian sublingual dapat memberikan efek yang lebih cepat, yaitu beraksi dalam 3 menit setelah pemberian. Apabila penderita tidak sadar dapat diberikan lewat pipa lambung.
Definisi dan Klasifikasi
Secara praktis krisis hipertensi dapat diklasifikasikan
berdasarkan prioritas pengobatan, sebagai berikut: Hipertensi emergensi
(darurat) ditandai dfengan td Diastolik > 120mmHg, disertai kerusakan berat
dari organ sasaran yang disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/ kondisi akut.
Keterlambatan pengobatan akan menyebabkan timbulnya sequele atau kematian. TD
harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu sampai beerapa jam. Penderita
perlu dirawat diruangan ibntensive care unit atau (ICU). Merupakan kedaan yang
jarang dijumpai, yang memerlukan penurunan tekanan darah sesegera mungkin untuk
membatasi atau menghindari kerusakan organ target lebih lanjut.
Hipertensi urgensi (mendesak), td diastolik> 120mmHg dan dengan tanpa kerusakan/ klomplikasi minimum dari organ sasaran. TD harus diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi parenteral. Merupakan peningkatan tekanan tekanan darah yang berat, tanpa gejala-gejala dan disfungsi organ target. Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain:
Hipertensi urgensi (mendesak), td diastolik> 120mmHg dan dengan tanpa kerusakan/ klomplikasi minimum dari organ sasaran. TD harus diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi parenteral. Merupakan peningkatan tekanan tekanan darah yang berat, tanpa gejala-gejala dan disfungsi organ target. Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain:
Hipertensi refrakter: respons pengobatan tidak memuaskan dan TD
> 200/110 mmHg, walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif (triple
drug) pada penderita dan kepatuhan pasien.
1.
Hipertensi akselerasi : TD meningkat (Diastolik) > 120 mmHg
disertai dengan kelainan fundudkopi KW III. Bila tidak diobati dapat berlanjut
ke fase maligna.
2.
Hipertensi maligna: penderita hipertensi akselerasi dengan TD
diastolik > 120-130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai papiledema,
peninggian tekanan intrakranial kerusakan yang cepat dari vaskular, gagal
ginjal akut, ataupun kematian bila penderita tidak mendapat pengobatan.
Hipertensi maligna, biasanya pada penderita dengan riwayat hipertensi essensial
atupun sekunder dan jarang terjadi pada penderita yang sebelumnya
mempunyai TD normal.
3.
Hipertensi enselofati: kenaikan TD dengan tiba-tiba disertai
dengan keluhan sakit kepala yang sangat, perubahan kesadaran dan keadaan ini
dapat menjadi teversible bila TD diturunkan.
Keluhan utama :
1.
Nyeri khas Aorta: onset mendadak, nyeri teriris sudah maksimal
dirasakan saat awal, lokasi nyeri sesuai lokasi dimana robekan aorta tadi.
2.
Rasa nyeri dada seperti nyeri dada khas infark miokard, bila
proses diseksi menjalar ke ostium arteri koronaria.
3.
Rasa nyeri leher disertai pandangan kabur, bila proses diseksi
ekstensi ke arteri karotis.
4.
Sinkope merupakan petanda komplikasi yg fatal, spt tamponade
jantung, hipoperfusi serebri.
Terjadi karena :
Krisis hipertensi dapat terjadi peda hipertensi primer atau
hipertensi sekunder. Faktor predisposisi tejadinya krisis hipertensi oleh
karena:
1.
Hipertensi yang tidak terkontrol
2.
Hipertensi yang tidak terobati]Penderita hipertensi yang minum
obat: MAO inhibitor, dekongestan, kokain.
3.
Kenaikan TD tiba-tiba pada penderita hipertensi kronis
essemsial(tersering).
4.
Hipertensi renovaskular.
5.
Glomeluronefritis akut.
6.
Sindroma with
Proses terjadinya :
Bentuk manapun dari hipertensi yang menetap, baik primer maupun
sekunder, dapat dengan mendadak mengalami percepatan kenaikan dengan tekanan
diastolik meningkat cepat sampai di atas 130 mmHg dan menetap lebih dari 6 jam.
Hal ini dapat menyebabkan nekrosis arterial yang lama dan tersebar luas, serta
hiperplasi intima arterial interlobuler nefron-nefron. Perubahan patologis
jelas terjadi terutama pada retina, otak dan ginjal.
Pada retina akan timbul perubahan eksudat, perdarahan dan udem
papil. Gejala retinopati dapat mendahului penemuan klinis kelainan ginjal dan
merupakan gejala paling terpercaya dari hipertensi maligna.
Otak mempunyai suatu mekanisme otoregulasi terhadap kenaikan
ataupun penurunan tekanan darah. Batas perubahan pada orang normal adalah
sekitar 60-160 mmHg. Apabila tekanan darah melampaui tonus pembuluh darah
sehingga tidak mampu lagi menahan kenaikan tekanan darah maka akan terjadi udem
otak. Tekanan diastolik yang sangat tinggi memungkinkan pecahnya pembuluh darah
otak yang dapat mengakibatkan kerusakan otak yang irreversible.
Pada jantung kenaikan tekanan darah yang cepat dan tinggi akan
menyebabkan kenaikan after load, sehingga terjadi payah jantung. Sedangkan pada
hipertensi kronis hal ini akan terjadi lebih lambat karena ada mekanisme
adaptasi.
Penderita feokromositoma dengan krisis hipertensi akan terjadi
pengeluaran norefinefrin yang menetap atau berkala.
Ciri khasnya krisis hipertensi ;
*sakit kepala
*jantung berdebar-debar
*sakit di tengkuk
*mudah lelah
*penglihatan kabur
*mimisan
*jantung berdebar-debar
*sakit di tengkuk
*mudah lelah
*penglihatan kabur
*mimisan
Karakteristik :
1. Karakteristik:
- Umur
- Jenis kelamin
- Tingkat penghasilan
- Tingkat pendidikan
- Pekerjaan
- Jumlah anak
Upaya Menangani KRISIS HIPERTENSI
1. Ensefalopati Hipertensi
Pada Ensefalofati hipertensi biasanya ada keluhan serebral. Bisa
terjadi dari hipertensi esensial atau hipertensi maligna, feokromositoma dan
eklamsia. Biasanya tekanan darah naik dengan cepat, dengan keluhan : nyeri
kepala, mual-muntah, bingung dan gejala saraf fokal (nistagmus, gangguan
penglihatan, babinsky positif, reflek asimetris, dan parese terbatas) melanjut
menjadi stupor, koma, kejang-kejang dan akhirnya meninggal. Obat yang
dianjurkan : Natrium Nitroprusid, Diazoxide dan Trimetapan.
2. Gagal Jantung Kiri Akut
Biasanya terjadi pada penderita hipertensi sedang atau berat,
sebagai akibat dari bertambahnya beban pada ventrikel kiri. Udem paru akut akan
membaik bila tensi telah terkontrol.
Obat pilihan : Trimetapan dan Natrium nitroprusid. Pemberian Diuretik IV akan mempercepat perbaikan.
Obat pilihan : Trimetapan dan Natrium nitroprusid. Pemberian Diuretik IV akan mempercepat perbaikan.
3. Feokromositoma
Katekolamin dalam jumlah berlebihan yang dikeluarkan oleh tumor
akan berakibat kenaikan tekanan darah. Gejala biasanya timbul mendadak : nyeri
kepala, palpitasi, keringat banyak dan tremor. Obat pilihan : Pentolamin 5-10
mg IV.
4. Deseksi Aorta Anerisma Akut
Awalnya terjadi robekan tunika intima, sehingga timbul hematom
yang meluas. Bila terjadi ruptur maka akan terjadi kematian. Gejala yang timbul
biasanya adalah nyeri dada tidaj khas yang menjalar ke punggung perut dan
anggota bawah. Auskultasi : didapatkan bising kelainan katup aorta atau
cabangnya dan perbedaan tekanan darah pada kedua lengan. Pengobatan dengan
pembedahan, dimana sebelumnya tekanan darah diturunkan terlebih dulu dengan
obat pilihan : Trimetapan atau Sodium Nitroprusid.
5. Toksemia Gravidarum
Gejala yang muncul adalah kejang-kejang dan kebingungan. Obat
pilihan : Hidralazin kemudian dilanjutkan dengan klonidin.
6. Perdarahan Intrakranial
Pengobatan hipertensi pada kasus ini harus
dilakukan dengan hati-hati, karena penurunan tekanan yang cepat dapat
menghilangkan spasme pembuluh darah disekitar tempat perdarahan, yang justru
akan menambah perdarahan. Penurunan tekanan darah dilakukan sebanyak 10-15 %
atau diastolik dipertahankan sekitar 110-120 mmHg Obat pilihan : Trimetapan
atau Hidralazin.
KESIMPULAN
1. Krisis hipertensi adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa
penderita yang memerlukan penanganan intensif di Rumah Sakit dengan pengawasan
yang ketat.
2. Obat parenteral merupakan pilihan utama karena bisa bereaksi cepat dan aman.
3. Ketepatan diagnosa akan mempengaruhi pilihan obat guna keberhasilan terapi dalam menurunkan tekanan darah dan komplikasi yang ditimbulkan.
2. Obat parenteral merupakan pilihan utama karena bisa bereaksi cepat dan aman.
3. Ketepatan diagnosa akan mempengaruhi pilihan obat guna keberhasilan terapi dalam menurunkan tekanan darah dan komplikasi yang ditimbulkan.
Macam-macam Pembuluh Darah
Pembuluh darah terbagi menjadi :
A. Pembuluh darah arteri
- Tempat
mengalir darah yang dipompa dari bilik
- Merupakan
pembuluh yang liat dan elastis
- Tekanan
pembuluh lebih kuat dari pada pembuluh balik
- Memiliki
sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar
jantung
- Terdiri atas :
5.1 Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh
5.2 Arteriol yaitu percabangan arteri
5.3 Kapiler :
a. Diameter lebih kecil dibandingkan arteri dan vena
b. Dindingnya terdiri atas sebuah lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran
basal - Dindingnya terdiri atas 3 lapis
yaitu :
6.1 Lapisan bagian dalam yang terdiri atas Endothelium
6.2 Lapisan tengah terdiri atas otot polos dengan Serat elastis
6.3 Lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat Serat elastis
B. Pembuluh Balik (Vena)
- Terletak di dekat permukaan
kulit sehingga mudah di kenali
- Dinding pembuluh lebih tipis
dan tidak elastis.
- Tekanan pembuluh lebih lemah di
bandingkan pembuluh nadi
- Terdapat katup yang berbentuk
seperti bulan sabit (valvula semi lunaris) dan menjaga agar darah
tak berbalik arah.
- Terdiri dari :
5.1. Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian atas tubuh menuju
serambi kanan jantung.
5.2. Vena cava inferior yang bertugas membawa darah dari bagian bawah tubuh ke
serambi kanan jantung.
5.3. Vena cava pulmonalis yang bertugas membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri
jantung.
Macam-macam stroke dan pencegahannya.
Stroke.
Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak)
yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi
karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Untuk
mengatasi masalah penyakit stroke, diperlukan strategi penanggulangan stroke
yang mencakup aspek preventif, terapi rahabilitasi, dan promotif.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker.
Orang tidak akan pernah mengetahui kapan stroke datang.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker.
Orang tidak akan pernah mengetahui kapan stroke datang.
Untuk
mencegah stroke, maka langkah-langkah yang perlu diketahui dan dilakukan adalah
sebagai berikut:
1.Rutin memeriksa tekanan darah
Tingkat tekanan darah adalah faktor paling dominan pada
semua jenis stroke. Makin tinggi tekanan darah makin besar risiko terkena
stroke. Jika tekanan darah meningkat,segera konsultasi ke dokter.
2. Waspadai gangguan irama jantung
Detak jantung yang tidak wajar menunjukkan ada perubahan fungsi jantung yang mengakibatkan darah terkumpul dan menggumpal di dalam jantung. Detak jantung ini
2. Waspadai gangguan irama jantung
Detak jantung yang tidak wajar menunjukkan ada perubahan fungsi jantung yang mengakibatkan darah terkumpul dan menggumpal di dalam jantung. Detak jantung ini
3. Berhenti
merokok dan mengkonsumsi alkohol
Rokok dapat meningkatkan risiko stroke dua kali lipat. Dan sama seperti rokok, alkohol meningkatkan risiko stroke dan penyakit lain seperti liver.
Rokok dapat meningkatkan risiko stroke dua kali lipat. Dan sama seperti rokok, alkohol meningkatkan risiko stroke dan penyakit lain seperti liver.
4. Periksa
kadar kolesterol dalam tubuh
Mengetahui tingkat kolesterol dapat meningkatkan kewaspadaan stroke. Kolesterol tinggi mengarah pada risiko stroke. Jika kolesterol sudah tinggi, segeralah menurunkannya dengan memilih makanan rendah kolesterol.
Mengetahui tingkat kolesterol dapat meningkatkan kewaspadaan stroke. Kolesterol tinggi mengarah pada risiko stroke. Jika kolesterol sudah tinggi, segeralah menurunkannya dengan memilih makanan rendah kolesterol.
5. Kontrol
kadar gula darah
Diabetes juga meningkatkan risiko stroke. Jika Anda
penderita diabetes, konsultasikan dengan dokter, makanan dan minuman apa yang
bisa di konsumsi untuk menurunkan gula darah.
6. Olah raga teratur.
Jalan cepat minimal 30 menit bisa menurunkan resiko
stroke. Anda juga bisa melakukan olah raga renang, sepeda dll. Pilih olahraga yang memang anda sukai dan lakukan senang hati
dan teratur tiga kali seminggu
7. Konsumsi garam
rendah sodium dan diet lemak
Kurangi konsumsi garam bersodium tinggi, mengurangi
risiko tekanan darah tinggi yang mengakibatkan stroke. Selain itu, konsumsi
buah, sayuran dan gandum sangat bermanfaat mencegah stroke.
8. Waspadai gangguan
sirkulasi darah .
Stroke berkaitan dengan jantung, pembuluh arteri dan
vena. Tiga bagian ini penting bagi sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk
dari jantung ke otak. Ketika ada tumpukan lemak yang menghambat aliran, maka
risiko stroke meningkat.
Macam-macam stroke
Stroke di bagi dua jenis yaitu:
a. Stroke iskemik
Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena
aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan
darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar
pasien mengalami stroke jenis ini.
b. Stroke hemorragik.
. Pada stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di
otak dan merusaknya. Hampir sebagian besar kasus stroke hemorrhagik terjadi
pada penderita hipertensi
Di lihat dari gejalanya stroke di bagi tiga:
1. stroke sementara, sembuh dalam beberapa menit atau jam.
2.stroke ringan ,sembuh dalam beberapa minggu.
3 stroke berat,sembuh dengan meninggalkan cacat, tidak bisa
sembuh total, bahkan dalam beberapa bulan atau tahun kemudian bisa
mengakibatkan kematian.
Baik stroke sementara, stroke ringan maupun berat, mempunyai
lima gejala utama, yaitu :
-Pusing atau sakit kepala tiba-tiba tanpa tahu sebabnya
-Tiba-tiba kehilangan keseimbangan, koordinasi dan kontrol
tubuh.
-Kehilangan penglihatan pada salah satu atau kedua mata.
-Kehilangan kesadaran dan bicara tidak jelas.
- Kelemahan dan kelumpuhan pada wajah, lengan, tangan, terutama pada
salah satu sisi tubuh.